?

Log in

No account? Create an account
19 February 2012 @ 09:49 am


Sudah lama banget saya ingin mengganti nama blog saya yang bukutubukuku ini karena banyak kemiripan dengan nama website buku lain, tapi sayang saya nggak bisa ganti nama blog di livejournal. Jadi saya pun memutuskan untuk pindah ke blogspot dengan nama baru yang lebih menggambarkan rutinitas membaca buku saya: http://readinginthemorning.blogspot.com .

Yep, saya memang lebih banyak membaca di pagi hari, yaitu ketika perjalanan dari rumah ke kantor dan ketika menunggu jam kerja dimulai di kantor. Maklum, saya suka dateng kepagian banget di kantor. Masuk jam 9, eh jam 7 udah nyampe. Rumahnya jauh sih, pilihannya dateng kepagian atau telat benerrr. Oleh karena itu, saya suka menyimpan novel di laci kantor buat dibaca ketika nunggu.

Post pertama di Reading in the Morning adalah FATE karya Orizuka yang juga saya ikut sertakan di kontes review yang diadakan oleh Orizuka. Jadi tolong ya, kalau teman-teman menyukai review saya, tinggalkan komen disini.




Tags:
 
 
 
11 February 2012 @ 09:40 pm
Buku hadiah Resensi Pilihan Gramedia niiih!!!!!
Baru banget sampe di rumah tadi.

Oiya, buat yang mau lihat resensi saya yang mana yang menang Resensi Pilihan, KLIK DISINI YA!!

Makin semangat buat baca buku-buku terbitan Gramedia dan bikin reviewnya nih supaya menang banyak buku lagi. Hihihi.

Terima kasih Gramedia!!!!
 
 
11 February 2012 @ 11:53 am
Judul Buku : Rumah Cokelat
Penulis : Sitta Karina
Penerbit : buah hati
Tebal : 226 halaman
Tahun terbit: 2012
Sitta Karina adalah salah satu pengarang favorit saya dan lama banget saya harus nunggu sampai karya terbarunya terbit. Nggak heran, begitu baca kabar di Twitter kalau Rumah Cokelat telah terbit, saya langsung membelinya tanpa mikir apakah tema ceritanya akan cocok dengan saya atau tidak.

Rumah Cokelat bercerita tentang Hannah Andhito, seorang ibu muda dengan satu anak berusia 20 bulan bernama Razsya, yang selain bekerja juga masih menumpang tinggal dengan ibunya. Karena kesibukannya, Hannah kerap meninggalkan Razsya di bawah pengasuhan Upik, si pembantu yang telaten, dan Eyang Yanni, ibu Hannah. Namun, Hannah bukannya ingin lepas tangan dengan perkembangan Razsya. Di tengah pekerjaan yang membludak dan emosi yang tinggi akibat cape kerja, macet, dan kesibukan lainnya, upaya Hannah untuk membuat Razsya mengenalnya bukan hanya sekedar sebagai ibu yang suka membelikan mainan malah lebih sering berakhir cekcok dengan Eyang Yanni, dan menjauhkannya dari Razsya.
Beruntung, Hannah punya Wigra, si suami yang pengertian dan suportif. Bersama Wigra, Hannah berusaha untuk menjadi ibu yang ideal bagi Razsya, walau itu berarti harus mengorbankan karier dan me-time-nya.

Sebuah kisah yang simpel tanpa konflik yang dramatis namun sangat realistis dan sarat makna. Walau saya belum berkeluarga, saya kerap kali mendengar curhatan teman sekantor yang sudah berkeluarga yang mengalami problema sama persis dengan yang dihadapi Hannah. Beban kerja ditambah kemacetan Jakarta yang semakin parah dari tahun ke tahun membuat keluarga muda jaman sekarang tidak punya pilihan: hanya mampu memiliki tempat tinggal di pinggir Jakarta (baik itu rumah sendiri atau serumah dengan orang tua/mertua) dengan konsekuensi waktu banyak terbuang di jalan dan ketika sampai rumah, tidak ada waktu dan tenaga yang tersisa untuk bermain bersama anak. Pilihan agar ibu stop bekerja juga bukannya mudah karena jaman sekarang, segala hal serba mahal. Apakah gaji suami seorang cukup untuk menutup semua kebutuhan sekaligus saving? Itu baru hal-hal yang berkaitan dengan masalah ekonomi. Belum lagi yang berkaitan dengan masalah sosial. Bagaimana waktu untuk pribadi sebagai seorang manusia yang juga harus bersosialisasi dengan kawan sebaya? Masalah tersebut juga dihadapi oleh Hannah dan sempat membuat dunianya jungkir balik. Beruntung Hannah berhasil menahan segala ego dirinya dan memutuskan untuk mencoba belajar untuk melalui setiap masalah yang dihadapi demi prioritas utamanya, Razsya, sang anak. Percekcokan dengan suami, ibu, dan juga teman-teman yang sepertinya tidak bisa mengerti Hannah dilalui dengan kepala dingin hingga akhirnya Hannah berhasil mendapatkan apa yang ia cita-citakan: kedekatan hubungan Hannah dengan Razsya.

Novel ini bercerita tentang sebuah proses, tentang belajar berkorban, tentang mengubah prioritas, dan tentang menghilangkan keegoisan, demi hal penting bernama keluarga (pasangan dan anak). Melalui novel mungil ini kita diingatkan bahwa segala masalah pasti ada jalan keluarnya. Kita hanya perlu fokus pada apa yang menjadi gol kita sejak semula sehingga bisa melewati segala rintangan yang muncul. Seringkali perceraian terjadi hanya karena pasangan tidak ingat mengenai gol mereka semula sehingga ego dan emosi akhirnya mempengaruhi otak mereka dalam mengambil keputusan yang keliru. Novel ini sungguh merupakan inspirasi, baik untuk orang tua maupun untuk orang-orang yang kelak akan menjadi orang tua seperti saya. Such a nice story to tell.

Mengenai fisik buku, saya sangat menyukai cover, kertas dan spasi tulisan. Semuanya sangat memanjakan mata saya. Kesalahan penulisan juga tidak terlalu banyak. Hanya dua, sepanjang hitungan saya, yaitu di halaman 93, pada kalimat: "disini, kerja pun kembali ke jaman penjajahan Jepang. Kerja rodi." Kerja paksa jaman penjajahan Jepang adalah romusha, bukan rodi. Lalu pada halaman 105 pada kalimat: "Dan yang lebih menjengkelkan adalah salah satu istri brand manager B&H, Mbak Puti, ada yang seenaknya menggelar dagangan cupcake di situ". Yang menjual cupcake jelas-jelas Mbak Puti, kenapa diikuti "ada yang" seakan-akan Hannah tidak mengenal siapa yang menjual cupcake? Namun hal ini tidak termasuk parah dibanding banyak novel Indonesia lain yang pernah saya baca. Gaya penulisan Sitta Karina masih khas, mencerminkan tokoh-tokoh yang modern dan smart dan penuh bahasa Inggris bertebaran dimana-mana. Sesuatu yang saya suka sejak dulu.

Beberapa quote favorit saya dalam novel ini adalah:
Kalau hidup sesingkat itu, hmmm, sepertinya semakin bertambah alasan kita untuk menjalani hidup dengan baik dan benar. Kita nggak bisa kembali ke masa lalu; nggak bisa menghapus kesalahan yang pernah kita perbuat, juga nggak bisa mengulang kebahagiaan kecil yang dulu malah kita remehkan. (halaman 124)
dan
Hannah hanya menginginkan sesuatu yang pantas - pantas harganya, pantas kualitasnya. Seringkali barang-barang yang dijual kini asal dikasih label mahal walau ongkos produksinya tidak sebesar itu. Ia berpendapat tidak selalu barang mahal itu bagus kualitasnya. (halaman 155)
Sekian review dari saya. How I love this little novel. Pantes aja banyak banget yang rekomendasiin di twitter. Terima kasih mbak Sitta Karina atas karyanya yang very inspiring.
 
 
10 February 2012 @ 11:21 pm
Judul Buku : Tidak Ada Kelinci di Bulan!
Penulis : Stefanny Irawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 119 halaman
Tahun terbit: 2006


Buku pertama karya Stefanny Irawan yang saya baca, beli hanya Rp. 5.000 di rak buku diskon Gramedia Plasa Semanggi.
Terdiri dari 13 cerita pendek. Nah, Tidak Ada Kelinci di Bulan! ini adalah cerita ke-13 alias penutupnya.
Susahnya kalau meresensi buku kumpulan cerpen itu adalah susah untuk meringkas jalan cerita per-cerita pendek. Jadi, untuk kali ini saya langsung ke opini aja ya.

Kumpulan cerpen ini mostly berisi tentang kisah cinta yang "janggal" dan tidak happy ended. Bercerita tentang affair, hubungan sesama jenis, dan lain sebagainya yang nggak normal, namun dibungkus kalimat-kalimat yang sangat "nyeni" dan indah. Membaca kumpulan cerpen ini sedikit mengingatkan saya pada kumpulan cerpen Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)-nya Djenar Maesa Ayu yang juga mengeksplor tema seksualitas, namun saya masih lebih ngerasa nyambung membaca kumpulan cerpennya Djenar Maesa Ayu ketimbang Stefanny Irawan. Mungkin karena buku kumpulan cerpen Stefanny Irawan terlalu penuh kiasan, juga dengan setting cerita yang kebanyakan di luar negeri lengkap dengan nama-nama kebarat-baratan.
Cerita-cerita Stefanny juga kerap menimbulkan kebingungan mengenai jenis kelamin si tokoh utama, pertamanya saya kira perempuan eeeh.. di akhir cerita ternyata laki-laki, dan sebaliknya. Entah apakah itu memang disengaja sebagai kejutan atau memang Stefanny kesulitan menggambarkan kepribadian pria dan wanita.

Cerita favorit saya antara lain adalah Querida, yaitu cerita mengenai affair seorang fotografer bernama Neil dengan seorang penyanyi klub setengah baya bernama Chalita ketika ia berada di Argentina, dengan ending tidak disangka-sangka. Lalu ada pula Ketika Hangat Lupa Pulang pada Teh yang berkisah tentang misteri hilangnya seorang ayah ditengah makan mie ayam di sebuah warung bersama anaknya.

Beberapa cerita yang tidak menjadi favorit saya karena saya tidak mengerti ceritanya antara lain Aoi dan Bulan Merah Jambu, yang tentu tidak bisa saya ringkas isi ceritanya karena saya tidak mengerti. Hehe.

Kesimpulan saya secara umum, novel ini mungkin kurang cocok untuk saya yang tidak terlalu mengerti membaca kalimat-kalimat penuh kiasan. Namun, ada beberapa cerita yang menurut saya bagus dan benar-benar punya jalan cerita yang unexpected. Tidak terlalu puas membacanya, tapi lumayan juga untuk teman dikala harus "membunuh waktu".