Atonement Saoirse

Pindahan & Fate



Sudah lama banget saya ingin mengganti nama blog saya yang bukutubukuku ini karena banyak kemiripan dengan nama website buku lain, tapi sayang saya nggak bisa ganti nama blog di livejournal. Jadi saya pun memutuskan untuk pindah ke blogspot dengan nama baru yang lebih menggambarkan rutinitas membaca buku saya: http://readinginthemorning.blogspot.com .

Yep, saya memang lebih banyak membaca di pagi hari, yaitu ketika perjalanan dari rumah ke kantor dan ketika menunggu jam kerja dimulai di kantor. Maklum, saya suka dateng kepagian banget di kantor. Masuk jam 9, eh jam 7 udah nyampe. Rumahnya jauh sih, pilihannya dateng kepagian atau telat benerrr. Oleh karena itu, saya suka menyimpan novel di laci kantor buat dibaca ketika nunggu.

Post pertama di Reading in the Morning adalah FATE karya Orizuka yang juga saya ikut sertakan di kontes review yang diadakan oleh Orizuka. Jadi tolong ya, kalau teman-teman menyukai review saya, tinggalkan komen disini.




Sunglasses Series - Sunny

Rumah Cokelat

Judul Buku : Rumah Cokelat
Penulis : Sitta Karina
Penerbit : buah hati
Tebal : 226 halaman
Tahun terbit: 2012
Sitta Karina adalah salah satu pengarang favorit saya dan lama banget saya harus nunggu sampai karya terbarunya terbit. Nggak heran, begitu baca kabar di Twitter kalau Rumah Cokelat telah terbit, saya langsung membelinya tanpa mikir apakah tema ceritanya akan cocok dengan saya atau tidak.

Rumah Cokelat bercerita tentang Hannah Andhito, seorang ibu muda dengan satu anak berusia 20 bulan bernama Razsya, yang selain bekerja juga masih menumpang tinggal dengan ibunya. Karena kesibukannya, Hannah kerap meninggalkan Razsya di bawah pengasuhan Upik, si pembantu yang telaten, dan Eyang Yanni, ibu Hannah. Namun, Hannah bukannya ingin lepas tangan dengan perkembangan Razsya. Di tengah pekerjaan yang membludak dan emosi yang tinggi akibat cape kerja, macet, dan kesibukan lainnya, upaya Hannah untuk membuat Razsya mengenalnya bukan hanya sekedar sebagai ibu yang suka membelikan mainan malah lebih sering berakhir cekcok dengan Eyang Yanni, dan menjauhkannya dari Razsya.
Beruntung, Hannah punya Wigra, si suami yang pengertian dan suportif. Bersama Wigra, Hannah berusaha untuk menjadi ibu yang ideal bagi Razsya, walau itu berarti harus mengorbankan karier dan me-time-nya.

Sebuah kisah yang simpel tanpa konflik yang dramatis namun sangat realistis dan sarat makna. Walau saya belum berkeluarga, saya kerap kali mendengar curhatan teman sekantor yang sudah berkeluarga yang mengalami problema sama persis dengan yang dihadapi Hannah. Beban kerja ditambah kemacetan Jakarta yang semakin parah dari tahun ke tahun membuat keluarga muda jaman sekarang tidak punya pilihan: hanya mampu memiliki tempat tinggal di pinggir Jakarta (baik itu rumah sendiri atau serumah dengan orang tua/mertua) dengan konsekuensi waktu banyak terbuang di jalan dan ketika sampai rumah, tidak ada waktu dan tenaga yang tersisa untuk bermain bersama anak. Pilihan agar ibu stop bekerja juga bukannya mudah karena jaman sekarang, segala hal serba mahal. Apakah gaji suami seorang cukup untuk menutup semua kebutuhan sekaligus saving? Itu baru hal-hal yang berkaitan dengan masalah ekonomi. Belum lagi yang berkaitan dengan masalah sosial. Bagaimana waktu untuk pribadi sebagai seorang manusia yang juga harus bersosialisasi dengan kawan sebaya? Masalah tersebut juga dihadapi oleh Hannah dan sempat membuat dunianya jungkir balik. Beruntung Hannah berhasil menahan segala ego dirinya dan memutuskan untuk mencoba belajar untuk melalui setiap masalah yang dihadapi demi prioritas utamanya, Razsya, sang anak. Percekcokan dengan suami, ibu, dan juga teman-teman yang sepertinya tidak bisa mengerti Hannah dilalui dengan kepala dingin hingga akhirnya Hannah berhasil mendapatkan apa yang ia cita-citakan: kedekatan hubungan Hannah dengan Razsya.

Novel ini bercerita tentang sebuah proses, tentang belajar berkorban, tentang mengubah prioritas, dan tentang menghilangkan keegoisan, demi hal penting bernama keluarga (pasangan dan anak). Melalui novel mungil ini kita diingatkan bahwa segala masalah pasti ada jalan keluarnya. Kita hanya perlu fokus pada apa yang menjadi gol kita sejak semula sehingga bisa melewati segala rintangan yang muncul. Seringkali perceraian terjadi hanya karena pasangan tidak ingat mengenai gol mereka semula sehingga ego dan emosi akhirnya mempengaruhi otak mereka dalam mengambil keputusan yang keliru. Novel ini sungguh merupakan inspirasi, baik untuk orang tua maupun untuk orang-orang yang kelak akan menjadi orang tua seperti saya. Such a nice story to tell.

Mengenai fisik buku, saya sangat menyukai cover, kertas dan spasi tulisan. Semuanya sangat memanjakan mata saya. Kesalahan penulisan juga tidak terlalu banyak. Hanya dua, sepanjang hitungan saya, yaitu di halaman 93, pada kalimat: "disini, kerja pun kembali ke jaman penjajahan Jepang. Kerja rodi." Kerja paksa jaman penjajahan Jepang adalah romusha, bukan rodi. Lalu pada halaman 105 pada kalimat: "Dan yang lebih menjengkelkan adalah salah satu istri brand manager B&H, Mbak Puti, ada yang seenaknya menggelar dagangan cupcake di situ". Yang menjual cupcake jelas-jelas Mbak Puti, kenapa diikuti "ada yang" seakan-akan Hannah tidak mengenal siapa yang menjual cupcake? Namun hal ini tidak termasuk parah dibanding banyak novel Indonesia lain yang pernah saya baca. Gaya penulisan Sitta Karina masih khas, mencerminkan tokoh-tokoh yang modern dan smart dan penuh bahasa Inggris bertebaran dimana-mana. Sesuatu yang saya suka sejak dulu.

Beberapa quote favorit saya dalam novel ini adalah:
Kalau hidup sesingkat itu, hmmm, sepertinya semakin bertambah alasan kita untuk menjalani hidup dengan baik dan benar. Kita nggak bisa kembali ke masa lalu; nggak bisa menghapus kesalahan yang pernah kita perbuat, juga nggak bisa mengulang kebahagiaan kecil yang dulu malah kita remehkan. (halaman 124)
dan
Hannah hanya menginginkan sesuatu yang pantas - pantas harganya, pantas kualitasnya. Seringkali barang-barang yang dijual kini asal dikasih label mahal walau ongkos produksinya tidak sebesar itu. Ia berpendapat tidak selalu barang mahal itu bagus kualitasnya. (halaman 155)
Sekian review dari saya. How I love this little novel. Pantes aja banyak banget yang rekomendasiin di twitter. Terima kasih mbak Sitta Karina atas karyanya yang very inspiring.
fly to the sky

Tidak Ada Kelinci di Bulan!

Judul Buku : Tidak Ada Kelinci di Bulan!
Penulis : Stefanny Irawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 119 halaman
Tahun terbit: 2006


Buku pertama karya Stefanny Irawan yang saya baca, beli hanya Rp. 5.000 di rak buku diskon Gramedia Plasa Semanggi.
Terdiri dari 13 cerita pendek. Nah, Tidak Ada Kelinci di Bulan! ini adalah cerita ke-13 alias penutupnya.
Susahnya kalau meresensi buku kumpulan cerpen itu adalah susah untuk meringkas jalan cerita per-cerita pendek. Jadi, untuk kali ini saya langsung ke opini aja ya.

Kumpulan cerpen ini mostly berisi tentang kisah cinta yang "janggal" dan tidak happy ended. Bercerita tentang affair, hubungan sesama jenis, dan lain sebagainya yang nggak normal, namun dibungkus kalimat-kalimat yang sangat "nyeni" dan indah. Membaca kumpulan cerpen ini sedikit mengingatkan saya pada kumpulan cerpen Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)-nya Djenar Maesa Ayu yang juga mengeksplor tema seksualitas, namun saya masih lebih ngerasa nyambung membaca kumpulan cerpennya Djenar Maesa Ayu ketimbang Stefanny Irawan. Mungkin karena buku kumpulan cerpen Stefanny Irawan terlalu penuh kiasan, juga dengan setting cerita yang kebanyakan di luar negeri lengkap dengan nama-nama kebarat-baratan.
Cerita-cerita Stefanny juga kerap menimbulkan kebingungan mengenai jenis kelamin si tokoh utama, pertamanya saya kira perempuan eeeh.. di akhir cerita ternyata laki-laki, dan sebaliknya. Entah apakah itu memang disengaja sebagai kejutan atau memang Stefanny kesulitan menggambarkan kepribadian pria dan wanita.

Cerita favorit saya antara lain adalah Querida, yaitu cerita mengenai affair seorang fotografer bernama Neil dengan seorang penyanyi klub setengah baya bernama Chalita ketika ia berada di Argentina, dengan ending tidak disangka-sangka. Lalu ada pula Ketika Hangat Lupa Pulang pada Teh yang berkisah tentang misteri hilangnya seorang ayah ditengah makan mie ayam di sebuah warung bersama anaknya.

Beberapa cerita yang tidak menjadi favorit saya karena saya tidak mengerti ceritanya antara lain Aoi dan Bulan Merah Jambu, yang tentu tidak bisa saya ringkas isi ceritanya karena saya tidak mengerti. Hehe.

Kesimpulan saya secara umum, novel ini mungkin kurang cocok untuk saya yang tidak terlalu mengerti membaca kalimat-kalimat penuh kiasan. Namun, ada beberapa cerita yang menurut saya bagus dan benar-benar punya jalan cerita yang unexpected. Tidak terlalu puas membacanya, tapi lumayan juga untuk teman dikala harus "membunuh waktu".
Sunglasses Series - Sunny

(no subject)

Judul Buku : Dancing At Midnight (Dansa Tengah Malam)
Penulis : Julia Quinn
Penerbit : Dastan Books
Tebal : 431 halaman
Tahun terbit: 2010


Novel ini adalah novel kedua dari serial Blydon. Novel-novel lainnya adalah Splendid dan Minx (klik judul untuk resensinya). Yang menjadi tokoh utama kali ini adalah Lady Belle Blydon, sepupu Emma, yang di Splendid cukup banyak diceritakan juga.

Belle tidak pernah menyangka kalau dirinya akan jatuh cinta dengan seorang pria pincang yang punya mood selalu berubah-ubah seperti Lord John Blackwood, tetangga sepupunya, Duke dan Duchess of Ashbourne, Alex dan Emma. Padahal Belle bukannya tidak punya pilihan lelaki lain untuk dijatuhi cintanya. Di London, banyak pria bangsawan yang ingin melamarnya namun selalu ditolak Belle dengan berbagai alasan karena Belle merasa semua lelaki itu tidak ada yang benar-benar mencintainya. Tidak seperti John, yang Belle yakin sebenarnya benar-benar mencintainya, hanya saja selalu ditutup-tutupi entah karena alasan apa. Belle ingin sekali membuat John mengakui perasaannya terhadap Belle.

Lord John Blackwood sangat dingin walau sebenarnya baik hati. Ia adalah seorang bekas pejuang perang yang kembali dari medan perang dengan luka batin. Dulu, semasa perang di Spanyol, ia pernah mengingkari janjinya kepada seorang perempuan yang menyebabkan perempuan itu bunuh diri beberapa hari kemudian. Sejak saat itu, John merasa bahwa dirinya tidak layak untuk bahagia. Kemunculan Belle dalam hidup John memperumit segalanya karena John kini menghadapi dilema: ia ingin memiliki Belle, membahagiakan dan dibahagiakan gadis itu namun ia merasa dirinya tidak pantas mendapatkan hal seberharga itu. Ia merasa harus menjauhkan Belle dari hidupnya demi kebahagiaan gadis itu sendiri, tapi apakah John sanggup melakukannya?

Lalu muncul surat-surat kaleng untuk John diikuti percobaan pembunuhan terhadap John dan percobaan penculikan terhadap Belle. Dan John segera menyadari kalau hidupnya dan Belle kini terancam bahaya oleh kehadiran seseorang dari masa lalu John. Seseorang yang memiliki dendam teramat dalam kepada John. Apa yang harus dilakukan John? Apakah ia harus menjauh dari Belle agar Belle tidak terlibat dalam bahaya lagi atau justru ia harus berada sedekat mungkin dengan Belle untuk melindungi gadis itu dari bahaya?

Wuuiiih.... Baca novel ini seru banget deh!! Ide ceritanya seru dan alurnya kuat. Memang sih, di beberapa bab pertama kita bakal disuguhkan adegan romance yang.. wuuiiih.. banyak banget.. Maklum, kan ceritanya Belle dan John sedang pendekatan (walau lebih banyak Belle yang mendekati dan John-nya malah maju mundur nggak jelas gitu!) namun di bab-bab selanjutnya kita mulai dibawa kepada konflik sebenarnya, yaitu alasan dari semua sikap John yang nggak jelas itu ke Belle, yang ternyata berkaitan dengan masa lalunya. Menurut saya, semua yang ditulis Julia Quinn mengenai masa lalu John membuat semua tindakannya yang nyebelin banget itu sangat beralasan. Saya bisa mengerti bahwa John sebenarnya sangat mencintai Belle sampai takut membuat Belle terluka karenanya. Dan akhirnya, ketika tiba pada halaman terakhir novel, kita akan merasa bahwa semuanya sudah lengkap, bahwa semua konflik yang dibangun Julia Quinn sejak awal cerita akhirnya terselesaikan seluruhnya. Dan happy ending. Ini bukannya ngebocorin endingnya lho yaa... Toh semua novel Julia Quinn kan memang selalu happy ending. Hehe..

Hal yang sedikit membuat saya kurang sreg dalam novel ini mungkin adegan romance-nya ya yang terlalu vulgar dan terlalu kilat. Kedua tokoh utama belum terlalu lama mengenal eh, sudah melakukan hubungan seks sebelum menikah lalu menikah dengan memakai ijin khusus (supaya bisa menikah dengan cepat tanpa harus menunggu waktu untuk pengumuman pernikahan dsb). Dua hal ini selalu ada dalam setiap novel Julia Quinn yang saya baca. Saya jadi bertanya-tanya, apakah bangsawan Inggris dulu memang hidup seperti ini? Beberapa adegan romance, menurut saya, akan lebih baik jika tidak dijelaskan secara mendetail karena hanya akan buang-buang halaman saja dan memperlambat jalan cerita. Saya lebih suka dengan beberapa novel terbaru Julia Quinn seperti What Happens in London dan Ten Things I Love About You dimana adegan romance sudah jauh berkurang detailnya sehingga jalan cerita bisa menjadi lebih fokus dengan tetap menjaga romance-nya. Namun, kembali lagi, ini adalah salah satu novel awal Julia Quinn sehingga bisa dimaklumi kalau gaya penulisannya belum seenak novel-novel Julia Quinn selanjutnya.

Secara umum, novel ini tetap saya rekomendasikan untuk dibaca oleh siapapun penikmat Historical Romance atau pembaca yang baru coba-coba membaca Historical Romance. Bagus ceritanya!

Novel ini, dapat saya bilang, adalah novel terfavorit saya diantara dua novel serial Blydon lainnya. Ringan namun juga seru untuk dibaca. Recommended!
Saoirse in pink

Kalau Big Bisa... Aku Juga Bisa...

Judul Buku : Kalau Big Bisa... Aku Juga Bisa...
Penulis : Beth Shoshan & Petra Brown (ilustrasi
Penerbit : Erlangga For Kids
Tebal : 32 halaman
Tahun terbit: 2008


Ini adalah buku anak-anak yang saya beli barusan aja buat disumbangin ke satu panti asuhan.
Saya lagi milih-milih buku anak-anak yang ceritanya bagus dan mudah dimengerti bersama teman saya dan kami berdua langsung jatuh cinta dengan buku ini ketika kami melihat ilustrasinya yang lucu. Pas kami baca bukunya sampai habis, kami tambah jatuh cinta dengan cerita buku ini sampai-sampai ketika mendapati kalau yang kami baca itu adalah buku terakhir di toko buku, kami tetap membelinya.

Ceritanya lucu, tentang seekor koala yang di buku nggak dikasih tahu namanya (karena si beruang namanya Big, kita anggap aja si koala namanya Small, hahaha) yang selalu ingin mengikuti kawannya, Big, seekor beruang. Big bisa lari, Small ngikutin, walaupun dia selalu ketinggalan karena Big punya langkah yang besar. Big bisa naik pohon, Small ngikutin, walau dia perlu waktu lebih lama untuk naik pohon ketimbang Big. Big bisa menggali lubang, Small juga ngikutin, walau kemudian ia malah terjebak di lubangnya sendiri dan musti ditolong Big buat keluar. Pokoknya Small selalu ngikutin apa yang Big lakukan.

Sampai suatu hari Small menemukan satu lubang kecil yang cuma dia yang bisa masuk. Big nggak bisa masuk. Disana Small mendapati hal-hal menarik yang Big nggak bisa ikutin. Small bisa memetik bunga-bunga dan buah-buahan, Small bisa naik di dahan dan bisa lari-lari sekencang mungkin. Small bisa mengalahkan Big, karena Big nggak ada disana untuk melakukan hal yang sama, dan Small jadi kesepian. Lalu gimana lanjutannya? Hehehe... pasti tahu dong endingnya??

Walau terlihat simpel karena tulisannya hanya sedikit dan kisahnya sangat singkat, tetapi cerita ini sangat mengena di hati saya dan saya merasa dapat belajar banyak dari buku ini. Dalam buku ini, ada pelajaran tentang kebersamaan, ada pelajaran tentang berbagi kebahagiaan dengan teman-teman kita. Seperti ketika Small merasa kesepian karena tidak bisa berbagi hal-hal menarik dengan Big, pada akhirnya, semua kesuksesan yang sudah kita raih nggak akan ada artinya kalau hanya untuk kita sendiri. Melalui buku ini, saya kembali diingatkan supaya tidak egois, supaya lebih memperhatikan teman-teman saya dan orang lain di sekitar saya. Senang rasanya mendapati bahwa suatu buku anak-anak dengan cerita sederhana bisa memberi pencerahan pada hidup saya.

Saya merasa buku ini sangat ideal untuk buku anak-anak. Selain kisahnya yang singkat dan sederhana serta ilustrasi yang cantik, nilai-nilai yang diajarkan sangat baik dan berguna untuk anak-anak (dan saya juga.. yang jelas udah bukan anak-anak lagi!). Sangat saya rekomendasikan untuk dibeli oleh ibu-ibu untuk dibaca dengan anaknya. Semoga anak-anak yang akan menerima buku ini dari tangan saya juga akan bisa belajar hal yang sama seperti yang saya pelajari hari ini.
SKK Yoochun

Ten Things I Love About You

Judul Buku : Ten Things I Love About You (Sepuluh Yang Kucinta Tentangmu)
Penulis : Julia Quinn
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 440 halaman
Tahun terbit: 2011


Buku ketiga dari trilogi Bevelstoke, setelah The Secret Diary of Miss Miranda Cheever dan What Happens in London. Masih banyak nyambungnya dari novel sebelumnya, What Happens in London, karena buku ini menceritakan kisah Sebastian, sepupunya Sir Harry Valentine (tokoh utama di What Happens in London) yang juga sudah sering seliweran di buku sebelumnya. Sir Harry dan Lady Olivia pun masih sering ditemui di buku ketiga ini.

Sebastian, sebagaimana telah diceritakan di buku sebelumnya, punya posisi yang tidak jelas diantara masyarakat elit Inggris. Masalahnya, Sebastian tidak punya gelar. Namun ia memiliki paman seorang Earl, dan si paman ini tidak punya ahli waris lelaki. Menurut tradisi masyarakat Inggris, suatu gelar kebangsawanan hanya bisa diwariskan ke penerus laki-laki atau gelar tersebut akan jatuh ke lelaki keluarga terdekat si bangsawan tersebut. Akibatnya, orang-orang selalu berhati-hati dalam mendekati Sebastian. Sebastian bisa saja menjadi seorang Earl yang kaya di masa depan sehingga ia merupakan "tangkapan" yang berharga atau bisa saja menjadi orang biasa-biasa saja yang kebetulan tampan dan memikat namun miskin.

Paman Sebastian, Earl of Newbury, benci setengah mati kepada Sebastian dan tidak ingin gelarnya jatuh ke tangan Sebastian. Oleh karena itu, walau umurnya sudah lanjut, Earl of Newbury masih berusaha mendapatkan istri yang dapat memberinya seorang anak lelaki. Keluarga Vickers lalu menyodorkan cucu mereka yang hidup di pedesaan, Annabel Winslow, yang memiliki badan montok dan diduga sangat subur, untuk menjadi istri baru Earl of Newbury. Earl of Newbury langsung nafsu melihat Annabel karena tubuhnya dan ia pun bertekad menikahi Annabel, yang sebenarnya jijik setengah mati pada sang Earl, namun selalu mengingat keadaan keluarganya di desa yang jatuh miskin. Annabel harus menikah dengan sang Earl apabila ia ingin keluarganya bahagia.

Suatu hari, saat melarikan diri dari sang Earl di suatu pesta, Annabel menabrak Sebastian yang sedang bersantai di padang rumput. Mereka lalu terlibat obrolan menarik tanpa mengetahui identitas satu sama lain dan Annabel, tanpa diduga, meminta Sebastian menciumnya, yang disetujui oleh Sebastian. Sejak saat itu, Annabel dan Sebastian merasa telah tumbuh perasaan diantara mereka berdua. Betapa kagetnya Annabel dan Sebastian ketika mengetahui identitas mereka masing-masing di kemudian hari. Terutama Sebastian, yang pada dasarnya tidak ingin berurusan dengan pamannya. Namun, Sebastian tidak bisa membiarkan Annabel tertimpa kesulitan karena Sebastian diam-diam mencintai Annabel. Ditambah lagi, Olivia, istri sepupunya, sepertinya juga tidak ingin Sebastian tinggal diam.

Mengikuti judul buku, saya akan menuliskan hal yang saya sukai dari buku ini dalam bentuk list juga (tapi nggak sampe 10 yaa):
Pertama,
Tokoh utamanya adalah Sebastian, yang sejak membaca What Happens in London sudah menjadi tokoh favorit saya. Seb ini memiliki kepribadian yang humoris, suka seenaknya, pandai bergaul dengan wanita, juga berotak encer. Sekilas, ia terlihat seperti orang yang hidup tanpa beban, tapi sebenarnya ia sangat perasa, mudah gelisah, dan bertanggung jawab.
Kedua,
Gaya bertutur Julia Quinn yang sangat jenaka dan smart. Banyak banget percakapan dan adegan di buku ini yang membuat saya terpingkal-pingkal. Contohnya adalah ketika Sebastian dan Olivia mengunjungi Annabel dan Lady Vickers, nenek Annabel dan Lady Vickers memegang paha Sebastian (nggak jelas niatnya apa) dan membuat Sebastian panik sehingga Annabel berusaha keras menyelamatkan Sebastian (halaman 199 - 204) dan ketika Sebastian berusaha mendengarkan percakapan Annabel dengan Edward Valentine yang duduk di seberang meja dalam jamuan makan Lord dan Lady Challise namun selalu diganggu dengan pertanyaan-pertanyaan Lady Millicent, orang tua yang duduk di sebelah Sebastian, yang agak tuli dan selalu berteriak ketika bicara (hal 348 - 354). Julia Quinn juga berhasil menghadirkan suasana Inggris dalam buku ini melalui tutur kata para tokohnya dan gaya penulisan novel ini. Membaca novel ini, saya bisa membayangkan setiap tokohnya berbicara dengan aksen Inggris.
Ketiga,
Buku-buku karangan Sarah Gorely yang punya jalan cerita super aneh yang dibenci Olivia dan suaminya namun disukai banyak orang. Terbukanya identitas asli Sarah Gorely pun menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu di buku ini. Menurut saya, oke juga nih jika Julia Quinn suatu hari memutuskan untuk menjadikan buku-buku Sarah Gorely sebagai novel-novel nyata. Saya pasti akan membeli buku-bukunya lengkap!
Keempat,
Tokoh Lady Vickers yang benar-benar membuat saya ngakak. Nenek Annabel ini punya kepribadian yang ajaib. Pertama, sumber masalah dalam hidup Annabel adalah Lady Vickers (karena yang ngotot menjodohkan Annabel dengan Earl of Newbury adalah Lady Vickers) tapi siapa sangka, Lady Vickers juga lah yang akan menjadi penyelamat Annabel (dengan cara yang aneh banget!!). Selain itu, Lady Vickers suka sekali mabuk dan berbicara tidak keruan, mengingatkan saya akan tokoh Yetta dalam sitkom The Nanny.
Kelima,
Ending yang memuaskan. Walau saya sudah tahu kalau cerita ini akan berakhir dengan bahagia, saya tetap tidak menyangka kalau akhirnya akan seperti itu. Alur cerita novel ini begitu aneh, seaneh cerita buku-buku Sarah Gorely, namun akhirnya benar-benar menyenangkan dan... ya itu, memuaskan.

Sayang, ada kekurangan fatal dalam buku ini, yang sepertinya juga terjadi dalam buku-buku Julia Quinn yang diterbitkan oleh penerbit lain selain Gramedia. Sepertinya terjemahan heir tertukar dari yang seharusnya ahli waris menjadi pewaris. Ditulis berkali-kali bahwa Earl of Newbury mencari istri untuk mendapatkan pewaris, dan bahwa ia tidak ingin Sebastian menjadi pewarisnya. Padahal, arti pewaris adalah orang yang meninggalkan harta warisan sedangkan arti ahli waris adalah orang yang menerima harta warisan tersebut sehingga seharusnya, Sebastian adalah ahli waris Earl of Newbury, bukan pewarisnya. Mungkin hal ini dapat dikoreksi untuk edisi selanjutnya.

Kesimpulan akhir, selain kesalahan penerjemahan tersebut, buku ini sangat ringan, menghibur, dan menyenangkan untuk dibaca. Salah satu karya Julia Quinn favorit saya. Saya rekomendasikan untuk dibeli.
Atonement Saoirse

Nevermore

Judul Buku : Nevermore (Sang Penjaga Abadi)
Penulis : Maureen Child
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 282 halaman
Tahun terbit: 2008

 
Ricardo Santos adalah seorang manusia abadi dan Penjaga, yang bertugas memerangi iblis yang lari dari neraka dan membuat kekacauan di bumi. Selama lima ratus tahun hidupnya, ia merasa puas dengan pekerjaannya. Sampai ia bertemu dengan Erin, seorang wanita berbakat paranormal yang mampu membaca masa lalu seseorang dari benda yang dipegangnya, yang hampir tertabrak mobil di depan rumah Santos di San Diego. Santos sangat terkejut karena ternyata Erin adalah wanita misterius yang muncul di hari ketika Santos mati (dan setelah itu hidup kembali sebagai manusia abadi) di atas kapal lima ratus tahun yang lalu. Erin ternyata juga adalah Pasangan Takdir-nya, yaitu wanita yang memiliki hubungan telepati dan memiliki kekuatan yang berhubungan dengan kekuatan Santos.

Nyawa Erin ternyata sedang terancam dan ia ingin meminta bantuan Santos dengan petunjuk sebilah pisau yang dulu pernah digunakan untuk membunuh Santos. Erin merasa bahwa hanya Santos lah yang bisa menolongnya setelah ia mendapat penglihatan dari pisau itu. Setelah serangkaian serangan, Santos sadar bahwa Erin tengah diincar oleh iblis dan juga manusia, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Santos, bersama beberapa kawan Penjaga dan suami-istri Thomas dan Amy, yang merupakan penjaga rumah Santos, kemudian menyelidiki apa sebenarnya yang mereka inginkan dari hidup Erin, yang membawa mereka pada satu nama setan yang sangat berkuasa: Abbadon.

Novel ini merupakan novel Harlequin Nocturne pertama yang saya baca, dan terus terang saya cukup terkejut mendapati betapa saya cukup menikmati membaca novel ini. Alur ceritanya cepat dan tidak terlalu banyak basa-basi, bahkan adegan romance-nya pun tidak berlebihan sampai-sampai merusak jalan cerita. Semuanya sesuai porsinya. Adegan actionnya kental, begitu pula misteri yang melingkupi masa lalu Erin. Semua dibuat seru dan cukup membuat penasaran. Membaca novel ini bagaikan tengah menonton salah satu episode serial Charmed yang dulu pernah ngetop di SCTV karena sama-sama kental nuansa supernatural dan adult romance-nya.

Saya suka banget dengan karakter Erin yang sangat kuat. Hidupnya sejak kecil sudah sangat sulit, apalagi dengan bakat supernatural dan misteri masa lalunya. Namun ia tetap memiliki semangat hidup yang tinggi dan berusaha mengatasi kesulitan yang ia hadapi walau ia tidak tahu dengan jelas musuh macam apa yang ia hadapi. Saya suka dengan ketulusan dan kegigihannya memenangkan hati Santos, yang masih menyimpan luka karena dikhianati kekasih masa lalunya. Saya juga suka dengan kerelaan Erin mengorbankan nyawanya agar Abbadon tidak bisa mengambil kekuatannya.

Sayang, karakter Santosnya kok sepertinya kurang mengena di hati ya? Memang sih dia digambarkan sebagai pria yang sangat maskulin, kuat, dan pejuang tangguh. Namun saya malah lebih melihat dia sebagai pria sensitif yang mudah terbawa emosi.

Satu lagi kekurangan, atau mungkin saya aja yang kelewat membacanya ya.. Ketika Erin hampir tertabrak mobil di depan rumah Santos, ada pria misterius berambut pirang yang menyelamatkan Erin dan kemudian menghilang, namun sampai akhir cerita kok saya sepertinya tidak mendapatkan informasi mengenai siapa pria itu sebenarnya ya? Nah lho!

Yah, terlepas dari kekurangannya, novel ini menurut saya sangat asyik untuk dibaca. Ukurannya memang mungil dan tipis, namun cerita yang ada di dalamnya sangat kaya, bisa menyaingi satu buku novel fantasi yang tebalnya berkali-kali lipatnya. Para penggemar novel fantasi mungkin bisa mulai mencoba membaca buku-buku Harlequin Nocturne. Saya juga kepengen beli lagi nih buku lainnya. Hehe.

Selamat membaca!! 



James mcAvoy 2

BUKU BARU


Beli di rak Buku Murah-nya Gramedia Plaza Semanggi kikikii...
  • Tidak ada Kelinci di Bulan! karangan Steffany Irawan harganya Rp. 5.000
  • Nevermore karangan Maureen Child harganya Rp. 15.000
Sekarang lagi baca Nevermore. Novel Nocturne pertama yang saya baca nih. So far ceritanya menegangkan. Seru.
Tunggu resensinya ya!!