?

Log in

No account? Create an account
 
 
25 January 2012 @ 10:39 pm
Ten Things I Love About You  
Judul Buku : Ten Things I Love About You (Sepuluh Yang Kucinta Tentangmu)
Penulis : Julia Quinn
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 440 halaman
Tahun terbit: 2011


Buku ketiga dari trilogi Bevelstoke, setelah The Secret Diary of Miss Miranda Cheever dan What Happens in London. Masih banyak nyambungnya dari novel sebelumnya, What Happens in London, karena buku ini menceritakan kisah Sebastian, sepupunya Sir Harry Valentine (tokoh utama di What Happens in London) yang juga sudah sering seliweran di buku sebelumnya. Sir Harry dan Lady Olivia pun masih sering ditemui di buku ketiga ini.

Sebastian, sebagaimana telah diceritakan di buku sebelumnya, punya posisi yang tidak jelas diantara masyarakat elit Inggris. Masalahnya, Sebastian tidak punya gelar. Namun ia memiliki paman seorang Earl, dan si paman ini tidak punya ahli waris lelaki. Menurut tradisi masyarakat Inggris, suatu gelar kebangsawanan hanya bisa diwariskan ke penerus laki-laki atau gelar tersebut akan jatuh ke lelaki keluarga terdekat si bangsawan tersebut. Akibatnya, orang-orang selalu berhati-hati dalam mendekati Sebastian. Sebastian bisa saja menjadi seorang Earl yang kaya di masa depan sehingga ia merupakan "tangkapan" yang berharga atau bisa saja menjadi orang biasa-biasa saja yang kebetulan tampan dan memikat namun miskin.

Paman Sebastian, Earl of Newbury, benci setengah mati kepada Sebastian dan tidak ingin gelarnya jatuh ke tangan Sebastian. Oleh karena itu, walau umurnya sudah lanjut, Earl of Newbury masih berusaha mendapatkan istri yang dapat memberinya seorang anak lelaki. Keluarga Vickers lalu menyodorkan cucu mereka yang hidup di pedesaan, Annabel Winslow, yang memiliki badan montok dan diduga sangat subur, untuk menjadi istri baru Earl of Newbury. Earl of Newbury langsung nafsu melihat Annabel karena tubuhnya dan ia pun bertekad menikahi Annabel, yang sebenarnya jijik setengah mati pada sang Earl, namun selalu mengingat keadaan keluarganya di desa yang jatuh miskin. Annabel harus menikah dengan sang Earl apabila ia ingin keluarganya bahagia.

Suatu hari, saat melarikan diri dari sang Earl di suatu pesta, Annabel menabrak Sebastian yang sedang bersantai di padang rumput. Mereka lalu terlibat obrolan menarik tanpa mengetahui identitas satu sama lain dan Annabel, tanpa diduga, meminta Sebastian menciumnya, yang disetujui oleh Sebastian. Sejak saat itu, Annabel dan Sebastian merasa telah tumbuh perasaan diantara mereka berdua. Betapa kagetnya Annabel dan Sebastian ketika mengetahui identitas mereka masing-masing di kemudian hari. Terutama Sebastian, yang pada dasarnya tidak ingin berurusan dengan pamannya. Namun, Sebastian tidak bisa membiarkan Annabel tertimpa kesulitan karena Sebastian diam-diam mencintai Annabel. Ditambah lagi, Olivia, istri sepupunya, sepertinya juga tidak ingin Sebastian tinggal diam.

Mengikuti judul buku, saya akan menuliskan hal yang saya sukai dari buku ini dalam bentuk list juga (tapi nggak sampe 10 yaa):
Pertama,
Tokoh utamanya adalah Sebastian, yang sejak membaca What Happens in London sudah menjadi tokoh favorit saya. Seb ini memiliki kepribadian yang humoris, suka seenaknya, pandai bergaul dengan wanita, juga berotak encer. Sekilas, ia terlihat seperti orang yang hidup tanpa beban, tapi sebenarnya ia sangat perasa, mudah gelisah, dan bertanggung jawab.
Kedua,
Gaya bertutur Julia Quinn yang sangat jenaka dan smart. Banyak banget percakapan dan adegan di buku ini yang membuat saya terpingkal-pingkal. Contohnya adalah ketika Sebastian dan Olivia mengunjungi Annabel dan Lady Vickers, nenek Annabel dan Lady Vickers memegang paha Sebastian (nggak jelas niatnya apa) dan membuat Sebastian panik sehingga Annabel berusaha keras menyelamatkan Sebastian (halaman 199 - 204) dan ketika Sebastian berusaha mendengarkan percakapan Annabel dengan Edward Valentine yang duduk di seberang meja dalam jamuan makan Lord dan Lady Challise namun selalu diganggu dengan pertanyaan-pertanyaan Lady Millicent, orang tua yang duduk di sebelah Sebastian, yang agak tuli dan selalu berteriak ketika bicara (hal 348 - 354). Julia Quinn juga berhasil menghadirkan suasana Inggris dalam buku ini melalui tutur kata para tokohnya dan gaya penulisan novel ini. Membaca novel ini, saya bisa membayangkan setiap tokohnya berbicara dengan aksen Inggris.
Ketiga,
Buku-buku karangan Sarah Gorely yang punya jalan cerita super aneh yang dibenci Olivia dan suaminya namun disukai banyak orang. Terbukanya identitas asli Sarah Gorely pun menjadi momen yang sangat ditunggu-tunggu di buku ini. Menurut saya, oke juga nih jika Julia Quinn suatu hari memutuskan untuk menjadikan buku-buku Sarah Gorely sebagai novel-novel nyata. Saya pasti akan membeli buku-bukunya lengkap!
Keempat,
Tokoh Lady Vickers yang benar-benar membuat saya ngakak. Nenek Annabel ini punya kepribadian yang ajaib. Pertama, sumber masalah dalam hidup Annabel adalah Lady Vickers (karena yang ngotot menjodohkan Annabel dengan Earl of Newbury adalah Lady Vickers) tapi siapa sangka, Lady Vickers juga lah yang akan menjadi penyelamat Annabel (dengan cara yang aneh banget!!). Selain itu, Lady Vickers suka sekali mabuk dan berbicara tidak keruan, mengingatkan saya akan tokoh Yetta dalam sitkom The Nanny.
Kelima,
Ending yang memuaskan. Walau saya sudah tahu kalau cerita ini akan berakhir dengan bahagia, saya tetap tidak menyangka kalau akhirnya akan seperti itu. Alur cerita novel ini begitu aneh, seaneh cerita buku-buku Sarah Gorely, namun akhirnya benar-benar menyenangkan dan... ya itu, memuaskan.

Sayang, ada kekurangan fatal dalam buku ini, yang sepertinya juga terjadi dalam buku-buku Julia Quinn yang diterbitkan oleh penerbit lain selain Gramedia. Sepertinya terjemahan heir tertukar dari yang seharusnya ahli waris menjadi pewaris. Ditulis berkali-kali bahwa Earl of Newbury mencari istri untuk mendapatkan pewaris, dan bahwa ia tidak ingin Sebastian menjadi pewarisnya. Padahal, arti pewaris adalah orang yang meninggalkan harta warisan sedangkan arti ahli waris adalah orang yang menerima harta warisan tersebut sehingga seharusnya, Sebastian adalah ahli waris Earl of Newbury, bukan pewarisnya. Mungkin hal ini dapat dikoreksi untuk edisi selanjutnya.

Kesimpulan akhir, selain kesalahan penerjemahan tersebut, buku ini sangat ringan, menghibur, dan menyenangkan untuk dibaca. Salah satu karya Julia Quinn favorit saya. Saya rekomendasikan untuk dibeli.