January 14th, 2012

Saoirse in pink

Lady of Skye

Judul Buku : Lady of Skye (Romansa di Pulau Skye)
Penulis : Patricia Cabot
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 504 halaman
Tahun terbit: 2010


Ini adalah salah satu buku yang sudah saya idam-idamkan untuk beli, akhirnya kebeli juga. hihihi..
Senang, setelah beli langsung dibaca dan gak bisa dilepas, sampai saya bawa-bawa juga ke kantor, buat dibaca pas dateng kepagian atau pas jam istirahat. Tau-tau, kemarin, pas pulang kantor, ada hujan badai dadakan dan... buku ini jadi korban. Air hujan yang masuk ke dalam tas membuat buku ini agak keriting. Mau nangis deh rasanya.. huhu..

Itu sekilas cerita saya dengan buku ini.
Sekarang resensinya:

Dr. Reilley Stanton tidak pernah menyangka kalau pasien pertamanya di Lyming, sebuah desa terpencil di pulau Skye, Skotlandia, adalah seorang tukang perahu mabuk yang tercebur ke laut yang sangat dingin. Vonis Dr. Reilley, setelah dirinya juga menceburkan diri ke laut untuk menolong pria itu, sudah jelas: pria itu sudah mati. Ketika Miss Brenna, dokter tidak resmi setempat menonjok punggung si jenazah itu keras-keras dan membuat jenazah tadi bangun sambil terbatuk-batuk, Reilley hanya bisa melongo.

Reilley, Marquis Stillworth VIII yang juga bekerja sebagai dokter, datang ke Lyming untuk menjawab iklan Earl of Glendenning, pemilik tanah setempat, sekaligus untuk membuktikan pada mantan tunangannya di London bahwa ia adalah orang yang berguna. Sesampainya ia disana, ia mendapati kalau desa itu sudah memiliki dokter wanita bernama Brenna Donnegal, yang cantik namun sangat barbar (Reilley menggambarkannya sebagai "Wanita Amazon") dan Lord Glendenning ternyata ingin menikahi wanita itu sehingga membujuk Reilley untuk memaksa wanita itu pindah dari pondoknya (yang seharusnya menjadi pondok Reilley) ke kastil sang Lord yang penuh tikus.

Semua orang di desa lebih mempercayai Brenna ketimbang Reilley dan Brenna bersikap sangat memusuhi Reilley. Pasien yang bisa didapat Reilley hanyalah seekor ayam yang tidak mau bertelur. Namun, Reilley tidak tinggal diam. Perlahan-lahan, dia berusaha mendapatkan kepercayaan masyarakat desa (yang nggak susah-susah amat, karena Reilley punya kepribadian yang sangat ceria, otak yang sangat encer, dan ketampanan luarrr biasa) dan Brenna, yang dianggapnya sebagai partner kerjanya ketimbang saingan. Kebersamaan Reilley dengan Brenna membuat keduanya jatuh cinta. Sayang, posisi Reilley sebagai seorang Marquis tidak membolehkannya menikahi wanita tanpa gelar. Selain itu, Brenna juga tidak mau dinikahi Reilley karena ia takut dibawa Reilley meninggalkan Lyming. Lalu ada Lord Glendenning yang sudah pasti akan membunuh Reilley kalau ia sampai tahu hubungannya dengan Brenna.

Pada saat itu, tiba-tiba wabah kolera, yang sebelumnya membunuh hampir sepertiga populasi desa, kembali lagi dan Reilley bersama Brenna harus berusaha menyembuhkan para pasien sekaligus mencoba memutus mata rantai penyebaran penyakit itu, menggunakan hasil riset yang dilakukan Brenna selama ini. Berhasilkah mereka mencari jawaban atas penyakit tersebut? Gimana kisah cinta mereka selanjutnya?

Komentar saya setelah membaca buku ini cuma satu: "WOW!!". Ya, cuma ini, karena terus terang, baca review novel ini di goodreads.com membuat saya mengerutkan alis. Rata-rata review disana bilang novel ini nggak terlalu memuaskan, namun saya sudah terlanjur penasaran membaca novel Historical Romance-nya Patricia Cabot sehingga saya tetap ingin membacanya walau dengan review seperti itu dari orang-orang. Hanya saja, saya tidak berharap banyak lagi ketika membacanya. Oiya, Patricia Cabot ini orang yang sama dengan Meg Cabot yang menulis The Princess Diaries dan The Mediator lhoo... Patricia itu nama samarannya dia ketika menulis Historical Romance. Dan ternyata, saya sangaaaaatttt menyukai buku ini.

Hal-hal yang membuat saya suka banget sama buku ini:
  1. Ceritanya yang nggak pure romance. Biasanya, isi cerita buku-buku Historical Romance itu cetek banget, cuma cowok ketemu cewek, dua-duanya bangsawan (atau salah satunya bangsawan cuma gak ketahuan), jatuh cinta, kasih masalah sedikit, kasih sex-before-marriage scene sedikit, masalah selesai, novel tamat. Nah, novel ini nggak begitu. Ada permasalahan sosial yang diangkat, misalnya mengenai bagaimana wanita-wanita Lyming yang biasa ditinggal lama oleh suami melaut dengan suka rela menjadi teman tidur Lord Glendenning, lalu ada Flora si gadis pelayan bar yang sudah punya 4 anak dari Lord Glendenning dan mengharap dinikahi Lord Glendenning tapi tidak bisa karena keempat anaknya perempuan semua (Earl butuh anak lelaki untuk meneruskan gelarnya). Ada juga masalah kesehatan yang sepertinya masih relevan sampai saat ini, yaitu cerita mengenai keluarga MacAffee yang miskin sekali sampai anak-anaknya bahkan tidak pakai baju dan rumahnya tidak punya wc sedangkan ayahnya hanya mabuk-mabukan. Sama banget kan dengan keadaan beberapa masyarakat miskin di Indonesia? Cerita romance khas Historical Romance tetap ada di buku ini, namun para tokohnya pun juga terlibat dalam kehidupan bermasyarakat secara luas.
  2. Tokoh-tokoh utamanya sangat menyenangkan. Reilley digambarkan sebagai dokter yang sangat ceria dan selalu ingin memberi yang terbaik untuk semua orang. Walau ia terkadang masih mempraktekkan gaya hidup dan nilai-nilai kebangsawanan yang dianutnya (misalnya ketika dia meminta Brenna hidup didampingi pendamping, bukannya sendirian), ketika ia menghadapi masyarakat Lyming yang masih terbelakang dan liar, Reilley bisa dengan cepat menyesuaikan diri dan tidak jijik sama sekali dengan mereka. Brenna digambarkan sebagai wanita yang keras kepala dan kasar, namun kita tahu bahwa ia punya keteguhan luar biasa untuk menyelesaikan riset ayahnya di Lyming dan benar-benar serius ingin membantu warga desa itu. Lord Glendenning, walau digambarkan sebagai bangsawan urakan yang suka seenaknya, sebenarnya ia baik hati dan peduli pada warganya. Ia juga sangat gentleman dan tidak akan memanfaatkan kekuasaannya untuk menyakiti orang lain. Ketiga tokoh utama memberi teladan bahwa dalam suasana sesulit apapun, jika kita melakukan segalanya dengan senang hati dan dengan sungguh-sungguh, maka semua akan terasa lebih mudah.
  3. Dialog dan adegan yang dipenuhi humor. Ini adalah salah satu ciri khasnya Meg Cabot, mirip dengan Julia Quinn. Paling suka adegan ketika Reilley baru tertembak dan kedua teman Reilley dari London, Pearson dan Shelley (yang juga dokter) mengaku bahwa mereka bisa mengeluarkan peluru dari tubuh Reilley, padahal kasus operasi paling besar yang pernah dikerjakan hanya mengeluarkan usus buntu, lalu ketika Shelley menganggap Lord Glendenning tidak tulus mencemaskan Reilley yang tertembak hanya karena Lord Glendenning adalah satu-satunya yang berkunjung tanpa membawa pie.
  4. Riset penulis tentang kolera dan wabah kolera di Inggris yang patut diacungi jempol, karena membawa saya sebagai pembaca benar-benar mengerti betapa mengerikannya wabah kolera pada masa itu. Juga penggambaran penulis akan riset yang dilakukan Brenna, saya sangat menyukainya.
  5. Endingnya, walau bukan endingnya Reilley dengan Brenna. Ada pasangan lain yang akhirnya bahagia di akhir cerita dan menurut saya, memang sudah seharusnya mereka begitu. Yah kalau baca sendiri nanti tahu deh maksudnya.
Hal-hal yang membuat kenikmatan membaca novel ini sedikit berkurang, menurut saya:
  1. Typo error. Ini banyak banget ditemui di novel-novel Indonesia. Di novel ini juga begitu.Untungnya, tidak ada isi kalimat atau paragraf yang terulang, hanya kesalahan mengetik huruf. Tapi tetep aja kelihatan pas lagi baca.
  2. Ada beberapa bagian yang sepertinya lebih bagus jika ditulis rinci, bukannya dilewati begitu saja, misalnya bagian ketika Reilley mengoperasi kepala Hamish dengan mengebor tengkoraknya, sebuah cara baru yang Reilley sendiri sebenarnya belum pernah melihatnya dilakukan pada orang hidup. Itu adalah momen dimana akhirnya Brenna mulai mengubah pendapatnya akan Reilley sebagai dokter yang profesional, bukan sekedar dokter bangsawan yang hanya gila gelar dan status tapi tidak punya keahlian. Sayang adegan itu tidak diceritakan secara rinci, tahu-tahu Hamish sudah sadar dan operasi berhasil. Lalu ketika Flora melahirkan namun bayinya sungsang. Brenna bertugas memutar bayinya sementara Reilley mengajak Flora bicara, namun isi pembicaraannya tidak jelas apa. Padahal, seandainya isi pembicaraan itu ditulis, bisa jadi pembaca akan bisa mengerti cara Reilley untuk membuat Flora lebih semangat atau lebih tenang menghadapi persalinannya.
  3. Ending kisah cinta Reilley dan Brenna yang memberi kesan penulis ingin segera mengakhiri ceritanya secepat mungkin, sehingga endingnya dibuat sangat cepat dan simpel. Penyelesaian akan permasalahan yang sudah dipikirkan Reilley dan Brenna dengan sangat lama tahu-tahu selesai begitu saja dalam satu bab tipis.

Begitulah... Saya sangat puas membaca buku ini. Ternyata Meg Cabot bisa juga menulis Historical Romance.
Highly recommended!!