?

Log in

No account? Create an account
 
 
a girl from marsh
15 January 2012 @ 10:26 am
Judul Buku : Manusia Setengah Salmon
Penulis : Raditya Dika
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 258 halaman
Tahun terbit: 2011


Buku ini mungkin adalah buku terserius yang pernah ditulis Raditya Dika. Nggak tahu sih kalau di masa depan dia mau nulis buku kayak apa lagi, tapi dibanding buku-buku tulisan Dika (dipanggilnya Dika kan, bukan Radit? Di bukunya soalnya nyokapnya manggil dia Dika) yang pernah terbit sebelumnya, buku ini adalah yang paling serius. Dan seperti ingin mengajarkan sesuatu kepada pembacanya berdasarkan pengalaman si penulisnya.

Kelucuan yang Dika coba angkat dalam buku ini, akibatnya, menjadi garing. Nggak selucu buku-buku sebelumnya, yang sepertinya memang ditulis karena niat ingin melucu, bukan menasehati.Misalnya dalam cerita Ledakan Paling Merdu. Emang sih, pada awal-awalnya kita dibuat ngikik membaca cerita sang bokap yang hobi senam kentut dan ngajarin si Dika untuk senam kentut juga tapiii.. berikutnya, kita bisa membaca bahwa arah tulisan Dika sebenarnya itu adalah supaya kita menghargai setiap kebersamaan kita dengan keluarga, apapun bentuknya. Hal seperti ini kembali terulang di bab berjudul Kasih Ibu Sepanjang Belanda. Nggak apa-apa sih kalau memang mau memasukkan nasehat-nasehat tertentu ke dalam suatu cerita, tapi sebaiknya sih hati-hati supaya nggak membuat cerita sebelumnya jadi berakhir dengan "tidak menyenangkan".Udah ngakak-ngakak geli sampe pol kok buntut-buntutnya malah dibikin sedih dan pengen nangis??

Bab yang paling saya suka, walau masih menggunakan "ramuan" yang sama dengan dua bab yang saya sebut sebelumnya, adalah Bakar Saja Keteknya yang bercerita tentang pengalaman Dika dengan supirnya yang baik tapi berbau ketek. Ini sukses membuat gue ketawa ngakak karena lucu banget dan endingnya pun nggak jadi terganggu karena nasehat si penulis. Bab berjudul Lebih Baik Sakit Hati juga jadi favorit saya karena saya pernah mengalami hal serupa dan masih akan mengalami hal serupa itu lagi, karena ini geraham bawah sebelah kiri saya belum dioperasi. Dan selamat, Raditya Dika, anda sukses membuat saya makin takut ke dokter gigi!!

Ada beberapa bab yang menurut saya "GAK PENTING ABIS" dan sebaiknya nggak ditulis, yaitu Interview With The Hantus yang sumpah, saya nggak ngerti apa maksudnya, apa lucunya, dan apa pentingnya, lalu Jomblonology yang pake bagan-bagan gak jelas gitu. Geleng-geleng kepala deh bacanya.

Anyway, dalam bagian Penggalauan, ada quote-quote yang menurut saya oke, yaitu:
Pacar yang cemburuan adalah pacar yang nggak pedean

dan
Jatuh cinta itu berjuta rasanya. Ketika ditolak, hanya satu yang terasa: nyesek

Segitu saja review dari saya. Mungkin banyak fans Raditya Dika yang masih menyukai buku ini sebagaimana mereka menyukai buku-buku Raditya Dika sebelumnya. Namun tidak dengan saya, saya cukup kecewa membaca buku ini. Mungkin karena ekspektasi saya (untuk bisa ngakak-ngakak) pada awalnya sudah terlalu tinggi atau mungkin memang Raditya Dika-nya saja yang sudah menjadi semakin dewasa sementara mental saya masih stuck walau usia saya dan dia sebenarnya sama (kesian amat ya saya??). Saya rasa, untuk kali berikutnya, saya harus mencoba menurunkan ekspektasi saya jika masih ingin membeli buku-buku Raditya Dika selanjutnya.