?

Log in

No account? Create an account
 
 
a girl from marsh
10 February 2012 @ 11:21 pm
Judul Buku : Tidak Ada Kelinci di Bulan!
Penulis : Stefanny Irawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 119 halaman
Tahun terbit: 2006


Buku pertama karya Stefanny Irawan yang saya baca, beli hanya Rp. 5.000 di rak buku diskon Gramedia Plasa Semanggi.
Terdiri dari 13 cerita pendek. Nah, Tidak Ada Kelinci di Bulan! ini adalah cerita ke-13 alias penutupnya.
Susahnya kalau meresensi buku kumpulan cerpen itu adalah susah untuk meringkas jalan cerita per-cerita pendek. Jadi, untuk kali ini saya langsung ke opini aja ya.

Kumpulan cerpen ini mostly berisi tentang kisah cinta yang "janggal" dan tidak happy ended. Bercerita tentang affair, hubungan sesama jenis, dan lain sebagainya yang nggak normal, namun dibungkus kalimat-kalimat yang sangat "nyeni" dan indah. Membaca kumpulan cerpen ini sedikit mengingatkan saya pada kumpulan cerpen Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)-nya Djenar Maesa Ayu yang juga mengeksplor tema seksualitas, namun saya masih lebih ngerasa nyambung membaca kumpulan cerpennya Djenar Maesa Ayu ketimbang Stefanny Irawan. Mungkin karena buku kumpulan cerpen Stefanny Irawan terlalu penuh kiasan, juga dengan setting cerita yang kebanyakan di luar negeri lengkap dengan nama-nama kebarat-baratan.
Cerita-cerita Stefanny juga kerap menimbulkan kebingungan mengenai jenis kelamin si tokoh utama, pertamanya saya kira perempuan eeeh.. di akhir cerita ternyata laki-laki, dan sebaliknya. Entah apakah itu memang disengaja sebagai kejutan atau memang Stefanny kesulitan menggambarkan kepribadian pria dan wanita.

Cerita favorit saya antara lain adalah Querida, yaitu cerita mengenai affair seorang fotografer bernama Neil dengan seorang penyanyi klub setengah baya bernama Chalita ketika ia berada di Argentina, dengan ending tidak disangka-sangka. Lalu ada pula Ketika Hangat Lupa Pulang pada Teh yang berkisah tentang misteri hilangnya seorang ayah ditengah makan mie ayam di sebuah warung bersama anaknya.

Beberapa cerita yang tidak menjadi favorit saya karena saya tidak mengerti ceritanya antara lain Aoi dan Bulan Merah Jambu, yang tentu tidak bisa saya ringkas isi ceritanya karena saya tidak mengerti. Hehe.

Kesimpulan saya secara umum, novel ini mungkin kurang cocok untuk saya yang tidak terlalu mengerti membaca kalimat-kalimat penuh kiasan. Namun, ada beberapa cerita yang menurut saya bagus dan benar-benar punya jalan cerita yang unexpected. Tidak terlalu puas membacanya, tapi lumayan juga untuk teman dikala harus "membunuh waktu".