?

Log in

No account? Create an account
 
 
01 March 2011 @ 10:12 pm
The Secret Diaries of Miss Miranda Cheever  
Judul Buku : The Secret Diaries of Miss Miranda Cheever
Penulis : Julia Quinn
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal :439 halaman
Tahun terbit: 2010


Satu lagi novel Historical Romance yang saya baca. Akhirnya beli sendiri nih, nggak minjem temen lagi. Hihi.
Bersetting abad 19, buku ini bercerita tentang seorang gadis yang tidak cantik-cantik amat di masanya, Miranda Cheever. Dengan tinggi badan menjulang dan rambut coklat, Miranda bukanlah termasuk tipikal wanita idaman pada saat itu. Berbeda dengan sahabatnya, Olivia, yang pirang dan cantik memukau. Akan tetapi, hal itu tidak menjadi masalah bagi Miranda karena diam-diam ia telah lama memendam cinta kepada seseorang.

Turner, duda yang menyimpan sakit hati karena dikhianati mendiang istrinya, merasa tidak mungkin jatuh cinta lagi. Sampai ia bertemu kembali dengan sahabat adiknya, Miranda. Sejak dulu Miranda memang telah menarik perhatian Turner, sejak gadis itu berusia 10 tahun. Padahal saat itu usia Turner sudah 19 tahun. Turner dapat merasakan bahwa dibalik hinaan orang-orang terhadap dirinya, Miranda sebenarnya sangat cantik dan pintar. Turner selalu merasa nyaman berada di dekat Miranda. Kedekatan mereka  membuat Turner nyaman. Akhirnya, Turner malah merasa tidak bisa hidup tanpa Miranda. Masalahnya, hati Turner yang sudah terlanjur sakit oleh pengkhianatan almarhumah istrinya sepertinya tidak mengijinkan Turner untuk jatuh cinta kepada Miranda. Berhasilkah Miranda memenangkan hati Turner?

Ok.  Terus terang saya belum biasa dengan kisah-kisah romantis jenis ini. Biasanya baca Danielle Steel sih, yang lebih mengutamakan plot ketimbang umbar nafsu. Jadi buat saya novel-novel historical romance ini masih terlalu vulgar. Tapi bisa dibilang, plot The Secret Diaries jauh lebih bagus daripada When Love Awaits yang sudah lebih dulu saya review. Kisahnya mengalir dan ada persoalan utama yang hendak dipecahkan dalam novel ini, yaitu apakah Turner akhirnya benar-benar mencintai Miranda atau hanya sekedar merasa nyaman bersama Miranda. Ada dua hal yang disayangkan: pertama, pada pertengahan kedua cerita, sepertinya pengarang jadi lebih fokus kepada pengumbaran nafsu ketimbang detail-detail kisahnya. Kedua, ending cerita ini dirasa terlalu mengada-ada dan terlalu cepat diselesaikan sehingga kurang terasa gregetnya. Membaca novel ini, menurut saya, biasa-biasa saja. Bisa jadi bacaan yang cukup menghibur di waktu luang, tapi kurang meninggalkan kesan.