?

Log in

No account? Create an account
21 January 2012 @ 10:29 am
Judul Buku : My Ridiculous Romantic Obsession
Penulis : Becca Wilhite
Penerbit : Atria
Tebal : 265 halaman
Tahun terbit: 2011


Buku terakhir yang saya baca dari tiga buku yang saya beli online akhir Desember kemarin.

Bercerita dari sudut pandang Sarah, mahasiswa baru yang mencoba memulai kehidupan baru jauh dari lingkungan dan orang tuanya demi melupakan kenangan masa lalunya yang menyakitkan. Sarah adalah orang yang selalu rendah diri. Ia memiliki otak yang encer, namun ia kerap merasa penampilannya kurang oke. Rambutnya terlalu mengembang dan badannya terlalu gendut. Ia tidak menarik untuk cowok dan berusaha untuk tidak terlalu GR setiap ada cowok yang mendekatinya, karena pengalaman masa lalunya mengajarkannya demikian. Cowok biasanya mendekatinya hanya karena membutuhkan otaknya: untuk mengajari pelajaran yang sulit atau membantu mengerjakan tugas.

Sarah adalah seorang penggemar novel romantis, tetapi selalu merasa kalau dirinya tidak pantas menjadi tokoh utama seperti di novel itu. Ia hanya layak menjadi sahabat si tokoh utama atau pemeran pembantu lainnya.

Sampai suatu hari, ia mengikuti kelompok belajar yang diprakarsai oleh Ben, cowok ganteng di kampusnya. Tanpa disangka-sangka olehnya, Ben ternyata sangat baik. Ben senang berbicara dengan Sarah, mencoba mengenal Sarah lebih jauh, Ben mau mengantar jemput Sarah, dan Ben sangat menyukai kemampuan Sarah bermain gitar dan bernyanyi (Ben juga ternyata jago main gitar). Sayang, Sarah merasa Ben hanya satu dari sekian cowok yang mencoba mendekati Sarah karena ada maunya (jelasnya sih otaknya Sarah). Tidak mungkin cowok sesempurna Ben menyukai Sarah!

Lalu Sarah mengetahui rahasia Ben, yang selama ini disembunyikan Ben, yang membuat Ben ternyata tidak sesempurna bayangan Sarah. Dan sejak itu, hubungan Ben dengan Sarah menjadi aneh. Gimana hubungan Sarah dengan Ben selanjutnya? Silahkan dibaca sendiri.

Awal membaca buku ini, saya merasa ceritanya cenderung membosankan karena buku ini lebih banyak menggambarkan segala sesuatu dari sudut pandang Sarah. Terlalu banyak deskripsi, terlalu banyak opini. Namun, semakin banyak membaca, saya menjadi lebih tertarik dengan ceritanya dan saya semakin bisa merasakan hubungan cerita ini dengan kehidupan saya sendiri (dan mungkin dengan kehidupan pembaca lainnya). Saya bisa mengerti alasan Sarah menjadi cenderung menjaga jarak dengan Ben dan tidak mau berpikir muluk-muluk soal perasaan Ben kepadanya walau sebenarnya niat Ben ke Sarah sudah sangat jelas. Saya bisa mengerti alasan Sarah rendah diri, walau sebenarnya ia tidak gendut, ia pintar bermain gitar, dan pintar dalam pelajaran. Memang, kenangan menyakitkan di masa lalu seringkali membentuk kepribadian kita sekarang. Di paruh terakhir buku, saya sudah bisa menikmati buku ini dan membacanya dengan cepat sampai halaman terakhir.

Pelajaran yang bisa diambil dari buku ini adalah bahwa setiap orang berhak mendapatkan kebahagiaan dan bahwa sejelek apapun kita pikir diri kita itu, di luar sana pasti ada orang yang merasa segala kejelekan itu justru sesuatu yang menarik dan akan menerima kita apa adanya. Yang perlu kita lakukan hanya terus membuka diri dan jangan biarkan segala pikiran buruk menguasai kita.

Bagian yang paling saya suka adalah bagaimana Sarah menggambarkan bayangan pertemuan dengan cowok pujaannya yang ala ala novel historical romance *jadi inget Johanna Lindsey banget deh* dan membuat saya ngikik:
Jika hidupku adalah sebuah novel romantis, dia akan datang mengendarai kuda putih besarnya... tapi nanti dia malah akan berkeringat dan kotor, dan pastinya aku bakalan alergi pada bulu kuda yang menempel di pakaiannya. Atau dia akan masuk ke pelabuhan dengan kapal perompaknya... tetapi ada sedikit masalah di mana aku tidak tinggal di dekat pelabuhan. Belum lagi semua tindakan perompak tidak menyenangkan, seperti menjarah dan menggilai pertumpahan darah dan tidak pernah mandi. Hal seperti itu tampak romantis dalam sebuah cerita, sampai kita memperhatikan detail-detailnya.

Bener banget... Beberapa hal memang cuma bagus di novel, bukan di kehidupan nyata. Hehe..

Walau tidak terlalu romantis, buku ini tetap menjadi buku yang manis.
 
 
15 January 2012 @ 10:26 am
Judul Buku : Manusia Setengah Salmon
Penulis : Raditya Dika
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 258 halaman
Tahun terbit: 2011


Buku ini mungkin adalah buku terserius yang pernah ditulis Raditya Dika. Nggak tahu sih kalau di masa depan dia mau nulis buku kayak apa lagi, tapi dibanding buku-buku tulisan Dika (dipanggilnya Dika kan, bukan Radit? Di bukunya soalnya nyokapnya manggil dia Dika) yang pernah terbit sebelumnya, buku ini adalah yang paling serius. Dan seperti ingin mengajarkan sesuatu kepada pembacanya berdasarkan pengalaman si penulisnya.

Kelucuan yang Dika coba angkat dalam buku ini, akibatnya, menjadi garing. Nggak selucu buku-buku sebelumnya, yang sepertinya memang ditulis karena niat ingin melucu, bukan menasehati.Misalnya dalam cerita Ledakan Paling Merdu. Emang sih, pada awal-awalnya kita dibuat ngikik membaca cerita sang bokap yang hobi senam kentut dan ngajarin si Dika untuk senam kentut juga tapiii.. berikutnya, kita bisa membaca bahwa arah tulisan Dika sebenarnya itu adalah supaya kita menghargai setiap kebersamaan kita dengan keluarga, apapun bentuknya. Hal seperti ini kembali terulang di bab berjudul Kasih Ibu Sepanjang Belanda. Nggak apa-apa sih kalau memang mau memasukkan nasehat-nasehat tertentu ke dalam suatu cerita, tapi sebaiknya sih hati-hati supaya nggak membuat cerita sebelumnya jadi berakhir dengan "tidak menyenangkan".Udah ngakak-ngakak geli sampe pol kok buntut-buntutnya malah dibikin sedih dan pengen nangis??

Bab yang paling saya suka, walau masih menggunakan "ramuan" yang sama dengan dua bab yang saya sebut sebelumnya, adalah Bakar Saja Keteknya yang bercerita tentang pengalaman Dika dengan supirnya yang baik tapi berbau ketek. Ini sukses membuat gue ketawa ngakak karena lucu banget dan endingnya pun nggak jadi terganggu karena nasehat si penulis. Bab berjudul Lebih Baik Sakit Hati juga jadi favorit saya karena saya pernah mengalami hal serupa dan masih akan mengalami hal serupa itu lagi, karena ini geraham bawah sebelah kiri saya belum dioperasi. Dan selamat, Raditya Dika, anda sukses membuat saya makin takut ke dokter gigi!!

Ada beberapa bab yang menurut saya "GAK PENTING ABIS" dan sebaiknya nggak ditulis, yaitu Interview With The Hantus yang sumpah, saya nggak ngerti apa maksudnya, apa lucunya, dan apa pentingnya, lalu Jomblonology yang pake bagan-bagan gak jelas gitu. Geleng-geleng kepala deh bacanya.

Anyway, dalam bagian Penggalauan, ada quote-quote yang menurut saya oke, yaitu:
Pacar yang cemburuan adalah pacar yang nggak pedean

dan
Jatuh cinta itu berjuta rasanya. Ketika ditolak, hanya satu yang terasa: nyesek

Segitu saja review dari saya. Mungkin banyak fans Raditya Dika yang masih menyukai buku ini sebagaimana mereka menyukai buku-buku Raditya Dika sebelumnya. Namun tidak dengan saya, saya cukup kecewa membaca buku ini. Mungkin karena ekspektasi saya (untuk bisa ngakak-ngakak) pada awalnya sudah terlalu tinggi atau mungkin memang Raditya Dika-nya saja yang sudah menjadi semakin dewasa sementara mental saya masih stuck walau usia saya dan dia sebenarnya sama (kesian amat ya saya??). Saya rasa, untuk kali berikutnya, saya harus mencoba menurunkan ekspektasi saya jika masih ingin membeli buku-buku Raditya Dika selanjutnya.
 
 
 
14 January 2012 @ 10:00 am
Judul Buku : Lady of Skye (Romansa di Pulau Skye)
Penulis : Patricia Cabot
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 504 halaman
Tahun terbit: 2010


Ini adalah salah satu buku yang sudah saya idam-idamkan untuk beli, akhirnya kebeli juga. hihihi..
Senang, setelah beli langsung dibaca dan gak bisa dilepas, sampai saya bawa-bawa juga ke kantor, buat dibaca pas dateng kepagian atau pas jam istirahat. Tau-tau, kemarin, pas pulang kantor, ada hujan badai dadakan dan... buku ini jadi korban. Air hujan yang masuk ke dalam tas membuat buku ini agak keriting. Mau nangis deh rasanya.. huhu..

Itu sekilas cerita saya dengan buku ini.
Sekarang resensinya:

Dr. Reilley Stanton tidak pernah menyangka kalau pasien pertamanya di Lyming, sebuah desa terpencil di pulau Skye, Skotlandia, adalah seorang tukang perahu mabuk yang tercebur ke laut yang sangat dingin. Vonis Dr. Reilley, setelah dirinya juga menceburkan diri ke laut untuk menolong pria itu, sudah jelas: pria itu sudah mati. Ketika Miss Brenna, dokter tidak resmi setempat menonjok punggung si jenazah itu keras-keras dan membuat jenazah tadi bangun sambil terbatuk-batuk, Reilley hanya bisa melongo.

Reilley, Marquis Stillworth VIII yang juga bekerja sebagai dokter, datang ke Lyming untuk menjawab iklan Earl of Glendenning, pemilik tanah setempat, sekaligus untuk membuktikan pada mantan tunangannya di London bahwa ia adalah orang yang berguna. Sesampainya ia disana, ia mendapati kalau desa itu sudah memiliki dokter wanita bernama Brenna Donnegal, yang cantik namun sangat barbar (Reilley menggambarkannya sebagai "Wanita Amazon") dan Lord Glendenning ternyata ingin menikahi wanita itu sehingga membujuk Reilley untuk memaksa wanita itu pindah dari pondoknya (yang seharusnya menjadi pondok Reilley) ke kastil sang Lord yang penuh tikus.

Semua orang di desa lebih mempercayai Brenna ketimbang Reilley dan Brenna bersikap sangat memusuhi Reilley. Pasien yang bisa didapat Reilley hanyalah seekor ayam yang tidak mau bertelur. Namun, Reilley tidak tinggal diam. Perlahan-lahan, dia berusaha mendapatkan kepercayaan masyarakat desa (yang nggak susah-susah amat, karena Reilley punya kepribadian yang sangat ceria, otak yang sangat encer, dan ketampanan luarrr biasa) dan Brenna, yang dianggapnya sebagai partner kerjanya ketimbang saingan. Kebersamaan Reilley dengan Brenna membuat keduanya jatuh cinta. Sayang, posisi Reilley sebagai seorang Marquis tidak membolehkannya menikahi wanita tanpa gelar. Selain itu, Brenna juga tidak mau dinikahi Reilley karena ia takut dibawa Reilley meninggalkan Lyming. Lalu ada Lord Glendenning yang sudah pasti akan membunuh Reilley kalau ia sampai tahu hubungannya dengan Brenna.

Pada saat itu, tiba-tiba wabah kolera, yang sebelumnya membunuh hampir sepertiga populasi desa, kembali lagi dan Reilley bersama Brenna harus berusaha menyembuhkan para pasien sekaligus mencoba memutus mata rantai penyebaran penyakit itu, menggunakan hasil riset yang dilakukan Brenna selama ini. Berhasilkah mereka mencari jawaban atas penyakit tersebut? Gimana kisah cinta mereka selanjutnya?

Komentar saya setelah membaca buku ini cuma satu: "WOW!!". Ya, cuma ini, karena terus terang, baca review novel ini di goodreads.com membuat saya mengerutkan alis. Rata-rata review disana bilang novel ini nggak terlalu memuaskan, namun saya sudah terlanjur penasaran membaca novel Historical Romance-nya Patricia Cabot sehingga saya tetap ingin membacanya walau dengan review seperti itu dari orang-orang. Hanya saja, saya tidak berharap banyak lagi ketika membacanya. Oiya, Patricia Cabot ini orang yang sama dengan Meg Cabot yang menulis The Princess Diaries dan The Mediator lhoo... Patricia itu nama samarannya dia ketika menulis Historical Romance. Dan ternyata, saya sangaaaaatttt menyukai buku ini.

Hal-hal yang membuat saya suka banget sama buku ini:
  1. Ceritanya yang nggak pure romance. Biasanya, isi cerita buku-buku Historical Romance itu cetek banget, cuma cowok ketemu cewek, dua-duanya bangsawan (atau salah satunya bangsawan cuma gak ketahuan), jatuh cinta, kasih masalah sedikit, kasih sex-before-marriage scene sedikit, masalah selesai, novel tamat. Nah, novel ini nggak begitu. Ada permasalahan sosial yang diangkat, misalnya mengenai bagaimana wanita-wanita Lyming yang biasa ditinggal lama oleh suami melaut dengan suka rela menjadi teman tidur Lord Glendenning, lalu ada Flora si gadis pelayan bar yang sudah punya 4 anak dari Lord Glendenning dan mengharap dinikahi Lord Glendenning tapi tidak bisa karena keempat anaknya perempuan semua (Earl butuh anak lelaki untuk meneruskan gelarnya). Ada juga masalah kesehatan yang sepertinya masih relevan sampai saat ini, yaitu cerita mengenai keluarga MacAffee yang miskin sekali sampai anak-anaknya bahkan tidak pakai baju dan rumahnya tidak punya wc sedangkan ayahnya hanya mabuk-mabukan. Sama banget kan dengan keadaan beberapa masyarakat miskin di Indonesia? Cerita romance khas Historical Romance tetap ada di buku ini, namun para tokohnya pun juga terlibat dalam kehidupan bermasyarakat secara luas.
  2. Tokoh-tokoh utamanya sangat menyenangkan. Reilley digambarkan sebagai dokter yang sangat ceria dan selalu ingin memberi yang terbaik untuk semua orang. Walau ia terkadang masih mempraktekkan gaya hidup dan nilai-nilai kebangsawanan yang dianutnya (misalnya ketika dia meminta Brenna hidup didampingi pendamping, bukannya sendirian), ketika ia menghadapi masyarakat Lyming yang masih terbelakang dan liar, Reilley bisa dengan cepat menyesuaikan diri dan tidak jijik sama sekali dengan mereka. Brenna digambarkan sebagai wanita yang keras kepala dan kasar, namun kita tahu bahwa ia punya keteguhan luar biasa untuk menyelesaikan riset ayahnya di Lyming dan benar-benar serius ingin membantu warga desa itu. Lord Glendenning, walau digambarkan sebagai bangsawan urakan yang suka seenaknya, sebenarnya ia baik hati dan peduli pada warganya. Ia juga sangat gentleman dan tidak akan memanfaatkan kekuasaannya untuk menyakiti orang lain. Ketiga tokoh utama memberi teladan bahwa dalam suasana sesulit apapun, jika kita melakukan segalanya dengan senang hati dan dengan sungguh-sungguh, maka semua akan terasa lebih mudah.
  3. Dialog dan adegan yang dipenuhi humor. Ini adalah salah satu ciri khasnya Meg Cabot, mirip dengan Julia Quinn. Paling suka adegan ketika Reilley baru tertembak dan kedua teman Reilley dari London, Pearson dan Shelley (yang juga dokter) mengaku bahwa mereka bisa mengeluarkan peluru dari tubuh Reilley, padahal kasus operasi paling besar yang pernah dikerjakan hanya mengeluarkan usus buntu, lalu ketika Shelley menganggap Lord Glendenning tidak tulus mencemaskan Reilley yang tertembak hanya karena Lord Glendenning adalah satu-satunya yang berkunjung tanpa membawa pie.
  4. Riset penulis tentang kolera dan wabah kolera di Inggris yang patut diacungi jempol, karena membawa saya sebagai pembaca benar-benar mengerti betapa mengerikannya wabah kolera pada masa itu. Juga penggambaran penulis akan riset yang dilakukan Brenna, saya sangat menyukainya.
  5. Endingnya, walau bukan endingnya Reilley dengan Brenna. Ada pasangan lain yang akhirnya bahagia di akhir cerita dan menurut saya, memang sudah seharusnya mereka begitu. Yah kalau baca sendiri nanti tahu deh maksudnya.
Hal-hal yang membuat kenikmatan membaca novel ini sedikit berkurang, menurut saya:
  1. Typo error. Ini banyak banget ditemui di novel-novel Indonesia. Di novel ini juga begitu.Untungnya, tidak ada isi kalimat atau paragraf yang terulang, hanya kesalahan mengetik huruf. Tapi tetep aja kelihatan pas lagi baca.
  2. Ada beberapa bagian yang sepertinya lebih bagus jika ditulis rinci, bukannya dilewati begitu saja, misalnya bagian ketika Reilley mengoperasi kepala Hamish dengan mengebor tengkoraknya, sebuah cara baru yang Reilley sendiri sebenarnya belum pernah melihatnya dilakukan pada orang hidup. Itu adalah momen dimana akhirnya Brenna mulai mengubah pendapatnya akan Reilley sebagai dokter yang profesional, bukan sekedar dokter bangsawan yang hanya gila gelar dan status tapi tidak punya keahlian. Sayang adegan itu tidak diceritakan secara rinci, tahu-tahu Hamish sudah sadar dan operasi berhasil. Lalu ketika Flora melahirkan namun bayinya sungsang. Brenna bertugas memutar bayinya sementara Reilley mengajak Flora bicara, namun isi pembicaraannya tidak jelas apa. Padahal, seandainya isi pembicaraan itu ditulis, bisa jadi pembaca akan bisa mengerti cara Reilley untuk membuat Flora lebih semangat atau lebih tenang menghadapi persalinannya.
  3. Ending kisah cinta Reilley dan Brenna yang memberi kesan penulis ingin segera mengakhiri ceritanya secepat mungkin, sehingga endingnya dibuat sangat cepat dan simpel. Penyelesaian akan permasalahan yang sudah dipikirkan Reilley dan Brenna dengan sangat lama tahu-tahu selesai begitu saja dalam satu bab tipis.

Begitulah... Saya sangat puas membaca buku ini. Ternyata Meg Cabot bisa juga menulis Historical Romance.
Highly recommended!!
 
 
10 January 2012 @ 12:59 pm
Hallloooo!!!!

Lama nggak update blog ini...
Soalnya saya akhir Des lalu nyobain beli buku online untuk pertama kalinya. Dan karena kena liburan tahun baru, akhirnya paket buku tersebut baru nyampe kemarin (HOREE!!).

Saya beli buku di http://bukabuku.com dan hasilnya sih cukup memuaskan, kecuali bagian harus nunggu lamanya karena kena liburan itu, apalagi karena saya mesen Manusia Setengah Salmon yang saya udah ngebet banget kepengen baca, jadi sempet agak-agak sebel nungguin paketnya lama sampenya. Hihihi... Tapi pikirkan itu hanya sebagai salah timing aja yaaa.... Buku-bukunya tiba dalam kondisi oke dan terbungkus rapi kok.

Btw, ini foto buku-buku yang saya beli, semoga bisa segera saya review...


Buku yang Patricia Cabot Lady of Skye itu adalah buku terbitan lama tapi udah penasaran bacanya dari dulu.. yang karena satu dan lain hal nggak pernah bisa kebeli. Akhirnya sekarang kebeli juga dan siap dibaca. Hihi...

Ya sudah, begitu saja. Hanya untuk menginformasikan kalau blog ini masih hidup kok, dan kalau Nana masih seneng baca.

Tags:
 
 
 
28 December 2011 @ 12:36 pm
Judul Buku : He Loves Her Till The End
Penulis : Monica Petra
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 200 halaman
Tahun terbit: 2008


Akhirnya baca teenlit dalam negeri lagi!!!
Yep, saya memang pecinta teenlit. Walau umur udah nggak bisa dibilang teen lagi, tapi selera masih dong. Soalnya menurut saya, novel-novel teenlit itu justru punya kisah paling kaya dan seru. Sebut aja karya-karyanya Dyan Nuranindya (Dealova, Rahasia Bintang, Cinderella Rambut Pink), Meg Cabot (The Mediator Series, Princess Diaries Series, dll), Ally Carter (Gallagher Girls series) dll dan punya scene romance yang nggak terlalu berlebihan dan makan porsi besar di bukunya. Makanya, ketika kemarin lagi jalan-jalan ke Lotte Mart dan ngeliat buku ini di rak diskon, saya langsung beli.

He Loves Her Till The End punya cover yang cantik banget. Sinopsis back covernya bisa dibaca disini.
Bercerita tentang seorang anak SMA bernama Gadis yang sebenarnya sudah punya pacar tetangga sebelahnya, Reno. Tapi Gadis malu mengakui Reno sebagai pacarnya. Alasannya, Reno ini kampungan banget! Penampilannya culun: kacamata kotak, kemeja selalu dikancing sampai mencekik leher. Kendaraannya sepeda mini yang ada keranjangnya di depan. Selain itu, Reno juga suka jualan kue di kantin sekolahnya demi menambah penghasilan keluarga yang minim. Gadis malu banget kalau sampai teman-teman satu sekolahnya tahu kalau Reno itu pacarnya! Untungnya mereka beda sekolah. Sekolah Reno dan Gadis terpisah 10 meter jauhnya, dan Gadis selalu minta Reno nurunin gadis jauh sebelum sekolahnya kalau Gadis lagi nebeng Reno ke sekolah naik sepeda mini.

Lalu ada Yustian, teman sekelas Gadis yang jago basket dan pentolan band sekolah. Udah ganteng, tajir, naksir pula sama Gadis. Wuih kombo komplit deh! Yustian, yang nggak tahu kalau Gadis sudah punya pacar, dengan gencar mendekati Gadis. Anter-jemput Gadis dengan sedannya, ngajakin jalan, dan Gadis mau aja. Secara, kalau sama Reno mana bisa dia mendapatkan kemewahan yang sama? Lalu Gadis pun mulai kucing-kucingan dengan Reno. Dia mulai bohong sana-sini untuk menutupi kisah "penyelewengannya" dari Reno yang tetap sabar dan polos, nganggep hubungan Gadis dan Yustian cuma sebatas teman dekat.

Ketika akhirnya terbongkar bahwa Gadis dan Reno berpacaran, Yustian ternyata menolak meninggalkan Gadis. Dia malah menantang Reno untuk memperebutkan Gadis dan akhirnya Gadis memilih Yustian ketimbang Reno. Tapi apakah keputusan itu benar?

Ketika membaca novel ini saya langsung membayangkan sedang menonton FTV di tivi di rumah karena ceritanya memang tipe-tipe cerita FTV. Ringan dan tidak menggali persoalan lebih dalam. Tema cerita maupun jalan cerita juga standart, tidak ada sesuatu yang baru yang ditawarkan dalam novel ini. Jujur aja, saya kecewa membaca novel ini. Dan kalau boleh ngeganti judul novelnya, saya rasa KARMA adalah judul yang lebih tepat ketimbang He Loves You Till The End karena di cerita ini saya benar-benar tidak merasakan cinta dan pengorbanan Reno ke Gadis, saya hanya melihat dia sebagai orang yang terlalu pasrah dan nrimo. Ditembak iya, diputusin juga iya. Yang penting Gadis bahagia, gitu prinsip hidupnya si Reno. Kalau judul novelnya diganti KARMA lebih cocok, soalnya kayanya novel ini lebih nyeritain karmanya Gadis karena udah ngegantungin cowok sebaik Reno dan malah nyeleweng sama Yustian ketimbang mutusin Reno buru-buru baru pacaran sama Yustian. Heran deh, kayanya cerita kayak gini emang lagi trend ya. Suka pada nonton Uya Emang Kuya nggak sih? Kebanyakan orang yang dihipnotis sama si Uya pasti punya cerita kayak gini: udah punya pacar tapi terus nyeleweng karena gak puas sama pacarnya. Haduuuh!!!! (kenapa juga jadi OOT gini?? Udah keracunan Uya Emang Kuya nih kayanya saya).

Btw, biar bagaimanapun masih ada nilai-nilai yang bisa diambil dari novel ini:
  1. Nyeleweng tuh nggak pernah enak, ya buat pelakunya, ya buat korbannya. Makanya, kalau memang sudah nggak sreg dengan pacar, mending diputusin aja sebelum jadian sama cowok lain. Tentu ada resiko yang harus kita hadapi tapi seenggaknya batin kita lebih tenang, nggak musti kucing-kucingan kayak si Gadis.
  2. Dalam pacaran, yang penting kita merasa nyaman menjalaninya. Kalau pacar mulai berbuat sesuatu yang bikin kamu nggak sreg, sebaiknya bilang. Kalau pacar masih maksa, berarti dia bukan pacar yang baik. Mending ditinggalin aja.
Kesimpulannya:
Ini bukan merupakan novel yang akan meninggalkan kesan mendalam untuk saya, namun saya menghargai pesan-pesan yang coba disampaikan penulis lewat novel ini. Selalu ada yang bisa dipelajari dari membaca sebuah buku, begitu juga dengan buku ini.